Cari

Memaknai Rasa

Karena Rasa Adalah Denyut Perjalanan Hidup Manusia

Mereka dan Semangat di Dalamnya

Featured post

Kekuatan yang Tak Terlihat

Sampai sejauh ini, kita masih gagah berdiri. Bertebaran di muka bumi untuk menjemput rizki. Berkutat dengan dunia yang merupakan hasil kerja keras di masa lalu. Belajar dalam majelis ilmu.

Sampai sejauh ini, kita masih fasih bernapas. Jantung masih tetap berdetak sebagaimana mestinya. Darah masih mengalir pada jalur yang ditetapkan. Jasmani dan rohani juga mudah-mudahan masih dalam keadaan sehat. 

Kita yang hidup hingga saat ini, sudahkah mengucapkan terima kasih?

Berterima kasih pada Yang Maha Pengasih itu sudah pasti harus dilakukan. Berterima kasih pada kekuatan yang terlihat, apa sudah dilakukan? 

Kekuatan yang tak terlihat itu adalah doa. Doa yang (mungkin) dikirimkan orang tua, kakek-nenek, adik, kakak, saudara, teman, atau bahkan mereka yang tidak kita ketahui.

Dari Abu Ad-Darda’ Radiallahu Anhu dia berkata: Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda yang artinya :

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata,“Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim no. 4912).

Mendoakan kebaikan kepada orang lain itu akan mendatangkan kebaikan pula pada diri sendiri. Jadi, semisal teman kita meminta untuk didoakan sesuatu. Doakanlah ia, mudah-mudahan apa yang dipinta dan dikabulkan, semua akan kembali pada kita. 

Kekuatan yang tidak terlihat ini memiliki energi dan keutamaan yang luar biasa, jika dilaksanakan dengan ikhlas, khusyu, dan memenuhi adab-adab berdoa lainnya. 

Mengapa begitu kuatnya energi doa itu? Allah Taala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Allah Taala berfirman,“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu” (QS. Al-Mu`min: 60). 

Selain itu, doa merupakan inti ibadah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Doa adalah ibadah.” ( HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Doa juga mampu mengubah takdir Allah. Dengan berdoa, berarti kita menunjukkan sikap kehambaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Allah.

Akan lebih makbul lagi kekuatan yang tidak terlihat itu jika disanjung-agungkan pada waktu-waktu yang mustajab. Di antara waktu tersebut adalah pada sepertiga malam terakhir, saat berbuka puasa, antara adzan dan iqamah, saat sujud dalam shalat, ketika sebelum salam pada shalat wajib, ketika hari Jumat, dan ketika turun hujan. Mungkin sebagian kita, ada yang menjadikan hujan sebagai suasana paling romantis untuk galau dan merindu. Nah, ada baiknya juga disisipkan doa untuk diri sendiri atau orang lain.

Berdirinya kita pada posisi jabatan, akademik, karir, prestasi, rezeki, atau apapun itu perlu disyukuri. Bersyukur itu berterima kasih. Mari, kita berterima kasih kepada orang-orang yang telah mengirimkan kekuatan yang tak terlihat melalui doa. Dengan apa? Mudahnya adalah dengan mendoakan kebaikan kembali pada mereka. Mendoakan agar kita dikumpulkan oleh-nya kelak di surga. 

Aamiin.

.

.

.
Tangsel, 15 Juni 2017
Rizal Alfaoji Kusnain | @alfaoji

#30dwcjilid6 #squad2 #day30 #kekuatantakterlihat #doa

Bal-balan

Ketika mendengar daerah Banjarnegara, apa yang terbersit dalam pikiran? Ada yang kurang familiar dan menanyakan: “Itu daerah mana ya?” Ada yang tahu dan spontan menjawab: “Wah, dawet ayu Banjarnegara legit tuh, Dataran Tinggi Diengnya adem.”

Banjarnegara adalah kabupaten di Jawa Tengah yang diapit Purbalingga dan Wonosobo. Kearifan lokal yang dikenal adalah dawet ayu, Dieng, atau batik dan kerajinan keramik Gumelem.

Selain yang disebut di atas, ada sedikit local wisdom yang biasanya masih eksis di kecamatan atau desa kecil di dalamnya. Termasuk desa saya di Kecamatan Punggelan. Tradisi itu adalah bal-balan. Biasanya ini tersaji saat musim tujuh belas agustusan. Beberapa hari jelang malam puncak perayaan kemerdekaan. 

Tradisi tanding bal-balan maksudnya adalah pertandingan sepak bola antar dukuh. Sekilas memang biasa, namun bagi saya ini adalah kelokalan yang langka. Para pemuda dalam suatu dukuh beserta perangkat dukuh seperti ketua RT/RW mendadak kompak. Mereka membentuk tim kesebelasan. Satu dukuh berduel dengan dukuh lainnya hingga babak final.

Pertandingannya bertempat di Lapangan Legok, sebutan lapangan besar di tempat saya, yang memang lapangan itu bisa menampung orang satu dusun/kelurahan (contohnya ketika shalat ied). Singkat cerita, sesuatu yang tersirat dari tradisi bal-balan ini adalah bagaimana kita menyatukan semangat warga dukuh untuk menjadi yang terbaik. 

Ada unsur guyub (kerukunan), grapyak (berkomunikasibergaul), dan manunggal (persatuan) yang ingin dikuatkan. Karena ketika pertandingan demi pertandingan dalam tiap babak yang berlangsung, tak jarang banyak penjual dagangan, anak-anak kecil, remaja, hingga orang tua menyaksikan pertandingan.

Setiap tim akan menunjukkan kelokalan dukuhnya melalui kostum pemain atau tim hore-nya. Misal, Dukuh Karangjati, mengenakan kostum pemain berwarna hijau karena di dukuh ini pertaniannya sedang maju. Dukuh Wanatangi memakai kostum biru karena di dukuh tersebut persediaan air dari aliran Gunung Salak masih melimpah, dibanding dukuh lain yang sedang kekeringan. Selain itu, tim hore-nya meneriakkan yel-yel khas untuk menyemangati tim atau menjatuhkan mental lawan.

Tim yang memenangi laga bal-balan musim agustusan pertahun akan dirayakan pada malam puncak. Pembacaan juara bisa di awal atau akhir acara. Malam puncak adalah malam akhir perayaan hari kemerdekaan di dusun. Biasanya acara ini diiringi dengan pentas organ tunggal yang menembangkan lagu dangdut, lagu jawa, atau campur sari.

Akhir kata, saya berharap tradisi-tradisi kecil ini dapat langgeng. Seiring perkembangan digitalisasi zaman, yang terkadang mengedepankan sifat individualisme warga.

Tangsel, 14 Juni 2017
#30dwcjilid6 #squad2 #day29 #localwisdom #balbalan

Belajar Berjiwa Besar dari Seorang Buya

Pernahkah ada teman yang melakukan kesalahan pada kita? Baik secara lisan ataupun perbuatan? Apakah sampai saat ini kita belum bisa memaafkan? Jika belum, mari menarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Hembuskan nafas seiring melupakan kesalahan teman kita dan maafkanlah. 

Saya ingin mengambil sedikit cerita yang ditulis oleh Irfan Hamka tentang Buya Hamka pada buku Ayah. Ada beberapa lembar kebesaran jiwa seorang Buya Hamka yang dituliskan.

Pada tahun 1964-1967, dua tahun empat Bulan lamanya Buya Hamka ditahan atas perintah Presiden Soekarno. Buya dituduh melanggar Undang-undang Anti Subversif Pempres No.11 yaitu merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Tidak hanya itu, buku-buku beliau juga dilarang terbit dan edar. 

Dengan ditahannya Buya, tentu kegiatan Buya dalam berdakwah dan mencari nafkah juga terputus. Otomatis penghasilan keluarga juga tersendat. Namun, di dalam penjara selama dua tahun tersebut, Buya mampu menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Azhar yang monumental. 

Apakah Buya menaruh dendam pada Soekarno? Yang dapat mengetahui isi hatinya hanyalah Allah. Tapi yang jelas, sejarah mencatat bahwa ketika Buya bebas setelah rezim Soekarno tumbang digantikan Soeharto, Mayjen Soeryo (ajudan Presiden Soeharto) datang ke rumah Buya.

Ternyata beliau membawa pesan dari keluarga Soekarno, yang isinya adalah: Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi Imam shalat jenazahku. Saat itu pula, ajudan presiden mengabarkan bahwa Soekarno telah wafat di RSPAD.

Dengan jiwa besar, Buya Hamka menyanggupi wasiat yang Soekarno tuliskan. Beliau pergi ke rumah duka dan menjadi imam shalat jenazahnya. Banyak yang mempertanyakan ketulusan Buya ini. Namun, bagi Buya dendam itu termasuk dosa. Beliau senantiasa berpikir positif pada Soekarno dan tidak melupakan jasa baiknya pada Islam.

Ketika membaca kisah ini, saya angkat topi pada kebesaran hati Buya. Meski di-dzalimi oleh rezim zaman itu, namun ia tetap berjiwa besar.

Sebelum Buya ditahan karena tuduhan rencana pembunuhan yang tidak masuk akal manusia waras, beliau dipreteli pada sebuah media/ surat kabar terpenting di masa Demokrasi Terpimpin. Salah satunya surat kabar Bintang Timur.  Sisipan ruang seni budaya bertajuk Lentera adalah terompet yang paling lantang suaranya dalam menyudutkan Buya. Pemimpin redaksinya adalah sastrawan Pramoedya Ananta Noer.

Rubrik itu terus menerus melakukan serangan gencar pada Buya, salah satunya menuduh buah karya Tenggelamnya Kapal Van de Wijck adalah hasil jiplakan oleh pengarang Hamka. Berbulan-bulan lamanya koran itu menyerang Buya dengan tulisan-tulisan berbau fitnah. 

Apakah Buya mendendam? Nampaknya tidak. Buya malah tidak merasa ada permusuhan dengan Pramoedya. Karena pada suatu waktu, Pramoedya menyuruh anak dan menantunya bernama Astuti (muslim) dan Daniel (non muslim) untuk belajar Islam pada Hamka. Dan, singkat cerita Buya Hamka menerima mereka untuk mempelajari Islam dengan baik. Artinya beliau menunjukkan, apa yang telah dilakukan Pramoedya padanya melalui media, tidak dibalas dengan hal serupa. Malah bersambut kebaikan tanpa maksud menjatuhkan balik. Masyaa Allah

Secara umum, berjiwa besar adalah memaafkan kesalahan orang. Berlapang dada dalam menerima kekalahan. Tidak mendendam dam senantiasa berpikir positif.

Berjiwa besar itu ksatria. Ini adalah hal yang dapat saya petik dari seorang ulama dan sastrawan yang pernah Indonesia miliki: Buya Hamka. Ada beberapa pesan yang dapat saya tuliskan terkait bagaimana caranya agar kita senantiasa berjiwa besar, selalu menghadirkan jiwa ksatria. Beberapa poin tersebut adalah:

1. Yakinkan hati bahwa ini takdir Allah yang dikhususkan pada kita. Allah telah menakdirkan orang itu untuk berbuat salah kepada kita. Allah telah menggariskan orang itu untuk menorehkan luka. Kita diminta untuk bermuhasabah atas kesalahan itu. Lalu, berusaha untuk menyembuhkan luka yang ada, meski sulit. 

2. Yakinkan hati bahwa ini adalah bentuk Allah membalas kesalahan sama yang (mungkin) pernah kita lakukan pada waktu lampau. Kesalahan yang tidak kita sadari. Kemudian Allah menampar kita dengan melimpahkan kesalahan yang dilakukan orang lain pada kita. 

3. Jika melupakan kesalahannya terlalu sulit, maka coba ingat-ingat kebaikannya. Senantiasa berpikir positif, mudah-mudahan itu dapat menenangkan hati. 

4. Ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. “Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah” (QS. Asy Syuuraa: 40).

5. Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan” (HR Muslim).

6. Ingatlah bahwa Rasulullah tidak pernah sekalipun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?

Tangsel, 13 Juni 2017
#30dwcjilid6 #squad2 #day28 #jiwabesar

Wisata Pintar di Taman Pintar

Ada yang pernah mencicipi wisata edukatif di Yogyakarta? Mari mlipir sejenak ke Taman Pintar. Destinasi yang akan mengantarkan kita pada dunia sains dan perkembangannya. 

Ketika masuk gerbang utama, kita akan disambut dengan replika gong besar: gong perdamaian. Di depan gong tersebut adalah gedung oval dan kotak, serta gedung memorabilia. Setelah membeli tiket, kita dibebaskan untuk masuk ke gedung manapun terlebih dahulu.

Saran saya, lebih baik masuk gedung memorabilia terlebih dahulu. Kenapa? Karena cakupan gedung ini hanya satu lantai. Sesuai dengan namanya, gedung ini bertujuan agar kita jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Gedung ini berisi tentang sejarah kepresidenan, pahlawan, sejarah kesultanan keraton Yogyakarta, sejarah pendidikan, benda-benda khas presiden, dan sebagainya.

Setelah selesai bernostalgia dengan sejarah, saatnya memasuki gedung oval dan kotak. Sesaat setelah melewati petugas tiket, kita akan dipayungi dengan aquarium air tawar raksasa, dilanjut zona kehidupan purbakala. Di zona ini kita akan disambut replika dinosaurus raksasa.

Dome area adalah tempat yang akan tersaji berikutnya. Pada area ini, mata kita akan disuguhi penampakan tata surya di langit-langit dome. Di sini juga tersedia percobaan-percobaan fisika, seperti paku ajaib, generator van de graf, dan sebagainya. Di bagian sudut, ada pojok kreasi, sedangkan di  bagian tengah ada demo sains. Jika ada hal yang ingin kalian kepoin mengenai materi dasar sains dari alat peraganya, tenang saja, di sana ada pemandu yang siap menjelaskan.

Memasuki lantai dua, kita akan menikmati wahana-wahana edukatif lainnya, seperti simulator gempa, zona nuklir, zona argo, terowongan ilusi, generator pedal, zona teknologi komunikasi, dan sebayanya. 

Memasuki gedung kotak (gedung ini sambungan dari gedung oval), akan ada wahana yang tak kalah seru. Pada tempat ini kita akan belajar di replika candi borobudur, seperangkat gamelan, koleksi keris, batik, dan tokoh wayang. Selain itu, juga ada wahana pengolahan susu, planning city, pengolahan air, dan minyak bumi. Juga ada simulator motor dan mesin kendaraan. Di gedung kotak ini juga terdapat perpustakaan Taman Pintar. 

Naik ke lantai tiga, akan ada zona televisi. Di zona ini, kita akan belajar roleplay bagaimana cara menyuguhkan sebuah program di sebuah televisi. Pada bagian lain, terdapat zona lukis kaos dan lukis gerabah, serta theatre tiga dimensi.

Setelah puas menjelajah, pintu keluar sebagai muara akhir. Kita akan masuk pada foodcourt, tempat cendera mata, dan shopping centre.

Pada bagian luar gedung, terdapat zona kreativitas seperti zona gerabah dan batik tulis.  Pada sisi lain, juga tersedia zona air dan beberapa alat peraga sains. Di samping itu, ada gedung PAUD barat dan timur.Tenang, di dalamnya juga ada pemandu yang siap membantu. Gedung ini spesial untuk anak-anak. Di sebelah gedung PAUD, ada gedung yang menarik banget. Gedung ini adalah planetarium. Wahana ini akan memanjakan mata pada konstelasi bintang di angkasa secara tiga dimensi.

Jadi bagaimana? Mau mencoba wisata edukatif yang kece ini? Cukup dengan membayar tiket Rp.10.000 untuk anak-anak dan Rp.18.000 untuk dewasa, kita dapat belajar sebagian besar wahana di Taman Pintar.

Tangsel, 12 Juni 2017
Rizal Alfaoji Kusnain | @alfaoji

#30dwcjilid6 #squad2 #day27

Saya Tidak Pacaran, Masalah? 

Ada sebagian teman yang dengan bangganya memperkenalkan teman dekatnya kepada khalayak. Teman dekat bukan mahram yang sering didefinisikan sebagai pacar.

Budaya ‘sesat’ ini dianggap wajar dilakukan bagi seseorang yang akan melangsungkan pernikahan.  Mereka beranggapan bahwa proses itu adalah masa perkenalan individu, menjajaki karakter, menyelaraskan keinginan, atau sebagai bentuk nyata cinta kasih terhadap lawan jenis.

Anggapan demikian yang melahirkan sebuah norma dalam masyarakat yang mengiyakan adanya proses pacaran. Bahkan ada sebagian orangtua yang menyuruh anaknya mencari pacar, karena dianggap sudah cukup umur, sudah dikategorikan perawan tua, bujang lapuk, atau anggapan lainnya. Astaghfirullah

Padahal, anggapan ini salah. Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda: “Jangan sekali-sekali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, kecuali si wanita itu bersama mahramnya” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Jika menginginkan jodoh, mintalah pada Allah, bukan dengan menggadaikan kehormatan dengan mencoba-coba pasangan yang bukan mahram. Senantiasa memperbaiki diri, mudah-mudahan Allah akan mendatangkan teman hidup kita pada waktu yang tepat.

Lalu, bagaimana dengan istilah pacaran islami? Jelas dalam hadits di atas bahwa bersendirian dengan yang bukan mahram saja tidak diperbolehkan apalagi menjalin hubungan? Istilah pacaran islami hanya sebagai kedok oknum tertentu untuk melegalkan pacaran. Padahal, dalam islam berpacaran hukumnya haram.

Pacaran islami sering diidentikkan dengan taaruf. Padahal taaruf sendiri adalah proses saling kenal dalam waktu singkat jelang pernikahan. Dan proses taaruf juga biasanya perlu mediasi pihak ketiga, bisa melalui seorang ustadz atau teman dekat orang tersebut.

Ada sebagian orang yang, pacaran islami didefinisikan sebagai pacaran yang dilandasi dengan aturan-aturan seperti saling menjaga pandangan, tidak saling bersentuhan, dan saling mengingatkan kebaikan seperti mengingatkan salat tepatwaktu,  membaca Al-Quran, dan sebagainya. Lalu memang ada hal seperti itu? Ini hanyalah omong kosong. Bukankah setan itu sangat cerdik. Tipu dayanya bermuslihat, apalagi dengan lawan jenis. Halus tapi mengajak kita pada hal yang berbau dosa.

Bukankah hal tersebut dapat menjerumuskan kita pada zina? Awalnya sayang-sayangan via chat, lalu janjian bertemu, kemudian pegang-pegangan, pegang ini, pegang itu, dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Jika sudah kebablasan, yang rugi siapa? Kita sendiri! Berdosa kepada Allah, malu sama diri sendiri, malu sama orangtua, malu sama saudara, dan tetangga.

Coba kita ingat lagi Q.S Al-Isra ayat 32, yang berbunyi: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Sangat jelas dikatakan dalam Al-Quran, mendekati zina saja adalah keji, apalagi berkubang di dalamnya. Naudzubillah

Buanglah jauh-jauh istilah pacaran islami. Jika sudah siap lahir dan batin, lebih baik menikah. Karena itu adalah sebaik-baiknya hubungan. Definisikan pacaran islami itu sebagai pacaran yang dilakukan setelah menikah. Ketika hubungan sudah sah. Insyaa Allah akan berkah. 

Jadi, semisal kita ditanya oleh teman, tetangga, atau saudara: mana pacar kamu? Kok ngga punya pacar
Jawab saja dengan tegas: saya tidak pacaran, masalah?

Tangsel, 11 Juni 2017

Rizal Alfaoji Kusnain | @alfaoji

#30dwcjilid6 #squad2 #day26 #saynotopacaran #tulisanbaik

Menengok Mie Ongklok

Ada yang pernah ke Dataran Tinggi Dieng? Yap. Kawasan wisata alam ini ada di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Akhir tahun lalu, tepatnya saat liburan semester, saya membuang penat sejenak di sana. Selain karena jaraknya yang relatif dekat dengan rumah orangtua, tempat ini juga memiliki daya magis tersendiri bagi saya.

Sajian alam khas dataran tinggi beserta kawah sulfur dan sisa peninggalan Candi Arjuna, menambah sejuk mata, pikiran, dan raga. Namun, yang akan diulas bukan detail Dataran Tinggi Dieng, melainkan sebuah kuliner khas daerah Dieng dan Wonosobo secara umum. Mari, kita tengok sebuah kuliner bernama mie ongklok.

Tidak lengkap rasanya jika datang ke Dieng atau Wonosobo jika belum mencoba kuliner unik ini. Tahun lalu, saya mencoba mencicipinya. Pada sebuah rumah makan pinggir jalan di daerah Semampir, jalan raya Banjarnegara menuju Wonosobo. Ketertarikan saya mencicipi kuliner ini karena olahan mie ini enak dan unik. 

Keunikan yang pertama, kudapan berbahan dasar mie ini dinamakan mie ongklok. Ada apa dengan ongklok? Maksudnya apa? Ternyata, ongklok adalah sejenis wadah keranjang kecil dari anyaman bambu, seperti gayung dengan gagang kayu. Fungsinya adalah untuk membantu proses perebusan mie dan sayurannya. Ini hanya ada di daerah Wonosobo.

Jadi, sang bapak penjual mie ini, mencampurkan semua bahan dasar: mie kuning, ditabur kol segar, dan potongan daun kucai. Sayurannya ini adalah sayuran khas dataran tinggi di sini. Setelah dicampurkan, sang bapak itu mengongklok-ongklok campuran mie tadi. Mengongklok maksudnya adalah memasukkan campuran mie yang sudah dimasukkan di keranjang bambu ke dalam air mendidih, dicelupkan terus menerus hingga layu. Kemudian, mereka disajikan dalam mangkok. 

Keunikan kedua, setelah disajikan dalam mangkuk, campuran mie dan sayuran ini disiram dengan loh. Loh adalah kuah berbahan dasar pati atau kanji, dicampur sedikit gula jawa, ebi, dan rempah-rempah. Kuah loh kental dan rasanya gurih. Apalagi loh juga diguyur dengan sedikit bumbu kacang, mrica, dan taburan bawang goreng. Seriusan! guyuran loh dan kawan-kawannya menambah gairah makan saya. Benar-benar meleleh dan menggiurkan lidah. Nendang! Maknyus

Keunikan ketiga, mie ongklok ini cocok disantap bebarengan dengan sate sapi dan tempe kemul. Apa itu tempe kemul? Dalam bahasa Jawa, kemul berarti selimut, artinya si tempe digoreng dengan selimut tepung terigu yang gurih berbalut daun bawang. Mereka cocok dijadikan kawan makan dengan mie ongklok. 

Lebih lengkap lagi jika minumnya menyeruput teh atau air jeruk hangat. Ini menambah nikmat kita dalam menyantap mie ongkok di daerah dataran tinggi yang memang bertemperatur rendah. Meminum es teh atau es jeruk juga tidak masalah. Tergantung selera. 

Harga mie ongklok pun sangat terjangkau. Dalam kisaran kurang dari dua puluh ribu untuk satu porsi mie ongklok.

Jadi, tertarikkah untuk mencicipi kuliner yang Indonesia banget ini? Silakan mampir ke seputaran Banjarnegara, Dataran Tinggi Dieng, dan Wonosobo. Di pinggiran jalan kita akan sering menjumpai pedagang mie ongklok yang original. Asli orang Wonosobo atau Banjarnegara. 

Yuk, kita cicipi dan mengkampanyekan local food, agar dia menjadi global food yang mendunia. Jika local food-nya mendunia, Indonesia akan bangga.

Tangsel, 10 Juni 2017

#30dwcjilid6 #squad2 #day25 #kulinerIndonesia #localfood #globalfood #Indonesia banget #kulinerBanjarnegara #kulinerWonosobo #mieongklok

Mengab(a)di

Selintas aku teringat kamu membacakan apa yang Emha Ainun Nadjib katakan: “Jika mewahnya dunia masih terasa besar bagimu dan menguasai ruang hatimu, berarti kau masih belum memiliki kebesaran dan kemerdekaan sejati.” Aku menunduk sejenak. 

Sudahkah mengabdi dengan baik? Dunia adalah singgah yang sementara. Yang namanya orang singgah berarti hanya mampir ngobrol, mampir minum, mampir makan, mampir dandan, dan mampir mampir lainnya. Suatu saat bukannya akan kembali pada peraduan? Sebuah ranah keabadian.

Aku tak ingin menjadi bagian dari apa yang Rasulullah khawatirkan. Kekhawatiran itu adalah kita seperti buih di lautan dan bercokollah di dada penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati. Seketika ada ucapan istighfar bersambut dari bibirmu dan bibirku.

Kamu mengatakan padaku bahwa yang perlu dilakukan manusia adalah menjadi hamba yang sebenar-benarnya hamba. Mengabdi tanpa henti. Mengabdinya itu berhubungan dengan melaksanakan perintah-nya dan menjauhi larangan-Nya. Bukankah Adz-Dzariyat 56 telah mengatakan tugas kita sebagai ciptaan-nya adalah beribadah dengan benar pada-Nya. Aku kembali menekuk lutut, mendekatkannya pada dagu, lalu memeluknya rapat-rapat.

Kamu masih di hadapanku, mengusap kepala dan berkata kembali. Mengabadi adalah sebuah keniscayaan yang akan datang. Jadikan abdi dan abadi satu kesatuan yang saling menguatkan. Mengabdi untuk abadi. Mengabadi untuk abdi. Satu hal agar kau mengabadi adalah menulis.

Menulislah, maka kau akan abadi. Menyejarah bersama kata-kata yang berbaris makna. Terlebih jika apa yang kautulis adalah kebaikan yang akan ditumbuhkan kembali oleh oranglain. Sungguh, pahalamu akan mengalir seiring kebaikan yang tumbuh itu. Kau mengakhirinya dengan dekapan hangat. Senja menuju malam.

Tangsel, 9 Juni 2017
Rizal Alfaoji Kusnain | @alfaoji

#30dwcjilid6 #squad2 #day24

Ketika Ditanya Kapan Nikah

Pertanyaan skakmat yang sering sekali ditanyakan kepada para jomblowan dan jomblowati adalah tentang pernikahan. Pertanyaan ini sepertinya sudah mengakar khusus ditujukan pada mereka yang sudah matang secara usia. Jika dilihat dari segi materi juga sudah siap. Nah, biasanya dari segi mental nih yang belum siap seratus persen.
Tidak apa-apa, yang namanya pernikahan itu memang harus disiapkan secara all package. Lahiriyah siap, batiniah juga harus lebih siap. Selain itu, kita juga harus tahu bagaimana menjadi suami yang baik, menjadi istri yang baik, termasuk kewajiban dan hak di dalamnya.

Ketika ditanya kapan nikah, sebaiknya apa yang perlu kita lakukan? Haruskah kita jawab: “Tolong jangan nanya, ini bukan urusan lo! Atau sebaiknya kita pura-pura amnesia? Atau pura-pura lagi mendengarkan murrotal Al-Quran kencang-kencang sampai tidak mendengar suara orang yang sedang bertanya? Atau bagaimana? 

Ketika kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan makjleb tersebut, ada baiknya kita AADC. Apa itu? 

1. Amati. Perhatikan siapa yang bertanya? Jika teman keseharian yang sudah biasa bercanda dengan kita, dibuat bercanda saja pertanyaan itu. Anggap saja itu guyonan untuk mempererat persaudaraan.

Jika yang bertanya adalah seorang ustadz atau orang yang lebih tua dari kita, sebaiknya kita hormati dan hargai mereka. Salah satunya adalah dengan cara senyumin aja! Anggap itu adalah pertanyaan sentilan bagi kita yang umurnya lebih muda dan dianggap sudah pantas untuk menikah. Sebagai self reminder, agar kita juga memikirkan ke arah sana. Tidak terbawa arus globalisasi, tidak ikutan trend sesat pacaran, mampu menjaga kehormatan sebagai manusia jomblo, dan hal-hal positif lainnya.

2. Abaikan. Ada baiknya acuhkan saja, jika yang bertanya adalah orang yang sama dan berkali-kali. Bertemu di pagi hari nanya kapan nikah. Siang hari bertemu juga nanya kapan nikah. Jelang waktu malam dan esok hari kembali bertemu pertanyaan juga sama. Daripada emosi tingkat dewa, lebih baik diamkan saja. Anggap dia tak ada. Anggap pertanyaannya hanya angin lalu.

3. Doakan saja. Tanggapan bijak jika ada yang bertanya kapan nikah, jawab saja: “Insyaa Allah doakan saja ya.” Orang yang bertanya biasanya langsung tersenyum dan diam, lalu menjawab: “Aamiin, semoga dipermudah ya. Insyaa Allah senantiasa saya doakan.” 

Nah, kalau begini kan terlihat adem ya. Kita saling mendoakan satu sama lain. Mendoakan kebaikan kepada sesama, karena doa adalah senjata, Doa adalah tangan untuk memeluk harapan yang kita inginkan. Tentunya disanjung-agungkan kepada Yang Maha Pemberi lagi Maha Penyayang. 

4. Ceritakan. Nah, ini adalah cara paling ampuh untuk mengatasi kegalauan. Menghilangkan stress karena tikaman pertanyaan tentang kedatangan dan sebagainya. Caranya adalah dengan meluapkan isi hati kita pada Yang Maha Mendengar. Sempatkan menemui-Nya di waktu-waktu mustajab. Pada sepertiga malam terakhir contohnya. Mudah-mudahan apa-apa yang digundah-gulanakan, akan terjawab oleh-Nya.

Selain itu, jika kita punya teman yang dekat, ada baiknya kita curhat. Menceritakan apa yang melatarbelakangi mengapa kita belum menikah hingga saat ini. Menumpahkan segala rasa yang ada ketika ditusuk oleh pertanyaan kapan nikah. Semoga teman dekat kita dapat memberikan solusi. Dan, setidaknya dia nantinya bisa memberitahukan kepada teman yang lain agar tidak menanyakan perihal kapan nikah pada kita. Dikarenakan alasan tertentu yangidak perlu diungkapkan.

Dari rumusan AADC di atas, semoga kita senantiasa diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan seorang jomblo. Cobaan yang hanya berupa pertanyaan dua kata: kapan nikah? Semoga kita dapat membuktikan kepada mereka yang bertanya, bahwa suatu saat nanti kita akan menikah. Tatkala mimpi dan target sudah ditunaikan. Tatkala waktu dan takdir sudah menyetujui. Dan alasan-alasan sebayanya.

Tangsel, 8 Juni 2017
#30dwcjilid6 #squad2 #day23

Menutup Usia dengan Indah

Sudah adakah harapan tutup usia dengan indah yang tersisip di antara doa-doa kita? Jika belum, mari senantiasa kita mohonkan pada Yang Maha Menghidup-matikan.

Sangat banyak doa yang diabadikan Al-Quran dan sunah Nabi shallallaahualaihi wasallam yang berisi permohonan agar dikaruniakan akhir hayat yang husnul khatimah. Doa tersebut diantaranya:

1. Q.S.Yusuf ayat 101 yang berbunyi: “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-oramg saleh.”

2. Q.S. Al-A’raf ayat 126 yang berbunyi: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).

3. HR. Ahmad dan At-Tirmidzi yang berkata: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”

Ada suatu peristiwa yang membuat saya merinding. Ketika itu, saya jalan-jalan ke dunia maya pada suatu platform media sosial. Swipe jari saya terhenti pada postingan suatu akun yang mengunggah video suatu acara. Acara tersebut adalah pengajian atau peringatan haul keluarga besar Ibu Khofifah, Menteri Sosial RI. Video tersebut merekam suara merdu seorang qari yang melantunkan ayat suci Al-Quran di awal acara.

Dia adalah ustadz Jafar. Beliau melantunkan QS Al-Mulk ayat 1 berlanjut ke ayat 2. Jelang akhir ayat 2 suara sang qari melemah, terus melemah, hingga akhirnya diam. Kepalanya tertunduk dan tangan yang sedari tadi memegang mikropon tetiba lemas. Jamaah bingung dan terlihat menoleh kanan-kiri. Seketika itu tim medis datang dan beliau dilarikan ke rumah sakit. Seketika itu pula dinyatakan bahwa nyawa beliau sudah tiada. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Saya tertunduk lemas, bergedup jantung dengan cepat, dan beranggapan: beruntung sekali Ustadz ini, diwafatkam di lingkungan orang-orang shalih yang sedang mengikuti pengajian dandihembuskan nafas terakhir tatkala membaca kalam Allah. Al-Mulk (kerajaan) ayat 1 dan 2 berbicara tentang Maha Suci Allah yang di Tangan-Nya (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang Menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun. Masyaa Allah. Beliau meninggal di atas ayat tersebut. 

Sejak saat itu saya terus berharap, semoga kelak juga ditiadakan dalam keadaan baik, indah, dan khusnul khatimah. Semoga kita senantiasa dihidupkan bara api tauhid dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia. Lalu, ditiadakan juga di atas tauhid yang kokoh. Aamiin

Tangsel, 7 Juni 2017
#30dwcjilid6 #squad2 #day22

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑